KREARIFINDO Creative Solution

PhotobucketPhotobucket PhotobucketPhotobucket

Kamis, 27 Januari 2011

Agar Tetap Tersenyum di Kala Sakit

Posted by video download On 10.20

Hidayatullah.com--Manusia tidaklah selalu berada pada kondisi yang fit dan sehat. Hampir setiap manusia pernah mengalami keadaan yang namanya sakit. Karenanya, karunia berupa kesehatan selayaknya menjadikan manusia semakin bersyukur kepada-Nya bukan menjadikan takabur, apalagi menjadi kufur.

Sakit, hendakalah tidak dimaknai dengan berbagai macam penafsiran negatif. Sebab hal ini justru akan menggiring kepada perasaan su’udzan (buruk sangka) kepada Allah SWT, yang berakibat tidak saja memperlambat kesembuhan tapi juga mengundang kemurkaan-Nya.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku menuruti persangkaan baik para hamba kepadaku. Hendaklah ia berprasangka sekehendaknya. Apabila ia berprasangka baik, maka akan baik, apabila ia berprasangka buruk maka akan buruk pula.” (HR.Thabrani). Jika berbaik sangka kepada-Nya, maka Insya Allah segala kesulitan akan menjadi mudah. Rasa sakit yang berat akan terasa lebih ringan.

Memang, adakalanya penyakit itu menjadi cobaan, musibah, ataupun adzab. Namun, sebaiknya manusia tidak terburu memandang secara negatif. Hal yang perlu diperhatikan adalah mengambil hikmah dari semua itu. Setiap penyakit, bisa diambil hikmah dan faedahnya untuk memperbaiki kualitas hidup.
Agar sakit tidak membuat stres tapi justru membahagiakan, maka kita harus melakukan beberapa langkah;

Pertama, Husnudzan (berprasangka baik) pada Allah. Jika kita berprasangka baik kepada-Nya, maka Allah SWT pun akan husnudzan kepada kita. Hal ini yang kelak membawa konskuesi positif bagi kesehatan dan di akhirat nanti rahmat-Nya dapat direngkuh. Husnudzan ini merupakan energi untuk memulihkan kondisi si sakit.
Sebaliknya, bila kita menuduh Allah dengan hal-hal negatif – Allah tidak kasihan, kejam dan tidak adil – maka rasa sakit itu bisa bertambah parah. Sebab, menurut psikolog, orang sakit yang terus-terusan dihantui perasaan negatif (negative thinking), akan memperkuat penyakitnya dan memperlambat kesembuhan.

Kedua, menghambil hikmah dan introspeksi diri. Terkadang, sakit mampu menyadarkan seorang hamba pada hakikat kehidupan. Mengubah manusia menjadi sosok yang kata Rasulullah SAW hamba al-Kayyis (cerdas). Sebagaimana yang perdah disabdakan oleh Rasulullah SAW, hamba yang cerdas adalah adalah hamba yang meletakkan ibadah untuk akhirat menjadi prioritas utama dalam hidupnya.

Tak jarang orang jahat atau ahli maksiat berubah menjadi lebih religius setelah ia didera penyakit. Kesadaran ini terbangun setelah ia bisa introspeksi diri. Musibah atau penyakit yang diderita hakikatnya teguran Allah agar seseorang itu kembali kepada Allah. Suatu musibah yang dapat menyadarkan itu jauh lebih baik dari pada kesehatan yang melalaikan.

Tentunya, hamba yang mampu menggali hikmah dibalik sakit ini hanyalah hamba yang sabar dalam menghadapi serangan penyakit ini. Tanpa sabar, seseorang tak akan mampu menyibak hikmah dan fadhilah (keutamaan) penyakit yang dideritanya. Ia pun bahkan tidak dapat memperoleh apa-apa. Pahala tidak, kesembuhan pun barangkali bakal lebih lama.

Tidaklah semua musibah yang kita pandang buruk, akan buruk pula di sisi Allah SWT. Keburukan di benak manusia belum tentu kejelekan di sisi Allah. “Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Mengambil Hikmah

Selain akan membantu penyembuhan – dari sisi kesehatan, positive thinking memiliki nilai tak terhingga dari pada sembuh itu sendiri. Sebagian manusia barangkali memandang sakit sebagai sesuatu yang buruk. Tapi bagi manusia beriman, sudut pandang negatif itu tidak mendapat tempat. Sakit, baginya justru merupakan karunia. Inilah yang menyebabkan dia harus tetap tersenyum bahagia, meski sedang sakit.

Bagi yang sedang sakit, janganlah bersedih, sebab terdapat pahala yang lumayan besar bagi orang yang tertimpa sakit. Pertama, Pahala dan Ridha Allah mengalir kepada orang yang sakit. Rasulullah SAW bersabda:
إن عظيم الجزاء مع عظم البلاء، وإن الله إذا أحب قوما ابتلاهم، فمن رضي فله الرضى ومن سخط فله السخط

“Sesungguhnya besar pahala itu seimbang dengan besarnya musibah. Apabila Allah mencintai suatu kaum, maka ia akan mengujinya. Barangsiap yang ridha maka dia mendapat keridhaan dan barangsiapa yang benci, maka baginya murka Allah.” (HR.Tirmidzi)


Menurut hadis di atas, sakit adalah sebuah karunia. Sebab, kondisi itu adalah sebagai bentuk rasa sayang Allah kepada hambanya. Selama sakit –jika sabar menerimanya –dosanya akan diampuni. Dalam hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang hamba sakit atau sedang bepergian, maka pahalanya tetap ditulis seperti ketika ia dalam keadaan sehat atau mukim.” (HR. Bukhari). Kesalahan-kesalah yang pernah diperbuat Insya Allah juga akan dilebur oleh Allah SWT:
وما أصبكم من مصيبة فبما كسبت أيديــكم ويعفوا عن كثير


“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu.” (QS. Asy-Syuraa:30).

Oleh karenyanya, orang sakit tidak perlu risau pahala ibadahnya berkurang. Seseorang shalat dengan berbaring – pada saat sakit – pahalanya sama besar dengan shalat orang normal. Allah SWT Maha Adil. Tidak akan membeda-bedakan pahala orang yang ibadahnya ‘tidak normal’.

Kedua, Sakit merupakan suatu kebaikan. Rasulullah SAW bersabda:
من يـــرد الله خيرا يصب منه

“Barang siapa yang dikehendaki Allah suatu kebaikan, maka Dia akan memberi orang itu cobaan.” (HR. Bukhari). Kebenaran sabda beliau sudah sering dibuktikan. Coba kita perhatikan betapa banyak orang yang fasiq, atau ahli maksiat, setelah tertimpa penyakit tertentu ia bertobat kembali ke jalan yang benar. Saat sakit mendera, ia bermuhasabah merenungi kehidupan dan menyadari segala kesalahan. Bahkan banyak pula kisah orang masuk Islam setelah ia sembuh dari penyakit. Ini merupakan kehendak Allah SWT kepada hambanya agar hambanya menjadi orang yang baik. Dalam hal ini sakit menjadi pintu hidayah Allah SWT. Maka seyogyanya, penderita sakit itu tidak stress dan depresi. Sebaliknya, patut disyukuri. Sebab, boleh jadi sakit itu membawanya ke pintu hidayah.

Ketiga, Meraih derajat yang tinggi. Dalam hadis dijelaskan bahwasanya cobaan itu dapat mengantar kepada derajat yang tinggi. “Ada seorang hamba yang meraih kedudukan mulia di sisi Allah bukan karena amalnya. Allah memberi cobaan dengan sesuatu yang ia tidak sukai hingga ia dapat meraih derajat mulia tersebut.” (HR. Abu Ya’la).

Tidak ada orang yang bebas penyakit. Sakit dan musibah adalah ketentuan Allah. Sakit bukan monopoli orang yang dianggap jelek. Semua manusia, para ulama dan Nabi pun mengalaminya.Bahkan para wali dan nabi paling berat cobaanya.
إن من أشد الناس بلاء الأنبـــياء، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

“Sesungguhnya manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi. Kemudian yang orang setelahnya, orang setelahnya (orang yang derajatnya dibawahnya).” (HR. Ahmad).

Semakin tinggi derajat seseorang, semakin berat cobaan yang diderita. Seorang mu’min yang ditimpa penyakit berat atau cobaan yang pedih tidaklah berarti menjadi pertanda bahwa ia tidak diridhai oleh Allah. Nabi Ayyub pun diberi cobaan yang paling berat. Tapi beliau orang yang tinggi di sisi-Nya.

Nabi Ayyub as adalah seorang Nabi yang patut dijadikan teladan bagi orang yang didera penyakit. Nabi Ayyub as adalah Nabi yang kaya raya serba kecupukan dan tubuh yang sehat. Tapi, suatu ketika Allah SWT mengujinya dengan memberi penyakit – sehingga kekuatannya hilang. Tidak hanya itu, hartanya pun lambat laun berkurang. Yang lebih menyakitkan lagi istri dan anak-anaknya meninggalkan beliau. Kenyataan ini beliau alamai selama kurang lebih delapan belas tahun.

Jadilah beliau seorang yang terhinakan. Namun, bukan maksud Allah SWT merendahkan Nabi-Nya. Derajat dan kedudukan di sisi-Nya bahkan meroket. Sebab beliau betul-betul menerima dengan kesabaran. Karena kesabarannya, Allah SWT mengembalikan semua yang hilang. Kekuatan, kesehatan, harta, istri, anak dan kerabat akhirnya kembali kepada beliau.

Belajar dari kisah tersebut, kita sepatutnya menyadari bahwa kasih sayang Allah SWT itu begitu besar. Kasih sayang tidak selalu diwujudkan dalam bentuk harta melimpah, kekuatan dan kesehatan yang prima. Namun, terkadang Allah SWT mewujudkan perhatiannya dalam bentuk sesuatu yang menurut manusia ‘hina’ yaitu penyakit. Bahkan seringkali Allah malah mengadzab hambanya dengan memberi kekayaan.

Dengan kekayaan itu, si hamba terjerumus dalam kubangan maksiat. Sebaliknya betapa banyak kisah seseorang menjadi lebih salih setelah sembuh dari penyakit. Ini menunjukkan kenikmatan itu bisa menjadi laknat, dan penyakit berubah menjadi rahmat.

Maka, hendaklah kita mengingat-ingat perbuatan ketika sehat dahulu. Agar bisa berintrospeksi diri untuk lebih mensyukuri nikmat kesehatan dan menambah semangat untuk bersabar dan sembuh.[Kholili Hasib]

Dakwah di Amerika, Ilmu Syar’i Saja tak Cukup

Posted by video download On 10.13

Dakwah tak cukup dengan ceramah, tapi perlu dengan kerja nyata dan mem bangun relasi dengan semua pihak, termasuk komunitas non-Muslim.

Dai asal Indonesia, Ustaz Syamsi Ali, menorehkan prestasi dakwah yang cukup gemilang di Amerika, tepatnya di New York. Menurutnya, menjadi seorang imam di AS telah memberikan nilai tambah tersendiri, mengingat komposisi komunitas Muslim di negara adidaya itu didominasi oleh tiga kelompok, yaitu dari Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika termasuk Afro Americans.

Menurutnya, justru karena berasal dari Indonesia, ia malah mendapat banyak kemudahan untuk bergerak ke semua jantung komunitas itu. ”Saya mudah diterima oleh warga Arab, Asia Selatan, dan Afrika,” katanya.

Karena banyaknya jumlah umat Islam dari tiga kawasan di AS itu, sejauh ini masyarakat Amerika masih mempersepsikan Islam dengan Timur Tengah, Asia Selatan, atau Afrika. Namun, keberadaan Syamsi Ali di AS, seperti yang diakuinya, secara langsung banyak mengubah persepsi itu.

Syamsi merasa bangga dapat mewakili negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia. Dalam berbagai forum pun, ia tidak canggung-canggung untuk tampil dan memberikan kontribusi. ‘’Hal itu saya lakukan untuk menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara besar,’’ katanya kepada Ali Rido dari Republika. Berikut penjelasan Syamsi Ali tentang latar belakang dakwah dan kiprahnya membangun komunitas Muslim di Amerika.

Bagaimana perjalanan dakwah Anda hingga sampai ke New York, AS?
Setamat dari Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah di Makasar 1988, saya melanjutkan studi ke luar negeri, tepatnya di Islamabad, Pakistan. Cukup lama, dari tahun 1988 hingga 1994. S1 di bidang Tafsir dan S2 di bidang Perbandingan Agama.
Setamat dari Pakistan, tiba-tiba saya mendapat tawaran untuk menjadi guru di sebuah institusi dakwah di kota Jeddah, Arab Saudi, tahun 1994. Di sinilah saya mulai banyak berinteraksi dengan non-Muslim. Hampir 50 persen penduduk kota Jeddah itu adalah non-Muslim.
Di akhir kontrak saya sebagai pengajar di Jeddah, di salah satu musim haji, saya diminta oleh KJRI Jeddah untuk mengisi pengajian manasik haji untuk haji luar negeri di KJRI. Kebetulan yang hadir ketika itu adalah Bapak Dubes, Nugroho Wisnumurti, Wakil Tetap RI untuk PBB di New York. Saat itu, beliau juga kebetulan menjadi penasihat pengurus Masjid Indonesia di New York. Beliaulah yang sebenarnya menawarkan saya, jika saya berminat ke Amerika, tepatnya di kota New York.
Maka, di awal tahun 1996 saya pun menginjakkan kaki di Amerika sebagai staf di PTRI New York. Di sinilah kemudian saya mengembangkan sayap ke berbagai kegiatan dakwah. Saya mulai membina masyarakat Muslim Indonesia di masjid Al-Hikmah –masjid masyarakat Indonesia–, menjadi Ketua Pawai Tahunan Muslim, mendirikan Imams Council, dan lain-lain.

Bekal ilmu apa saja yang Anda perlukan untuk berdakwah di New York?
Tentu ilmu-ilmu dasar terkait dengan Islam. Alquran dan sunah merupakan keharusan bagi semua dai di mana saja mereka melakukan kewajibannya.Tapi, untuk Amerika Serikat dan tentunya Eropa secara umum, ilmu syar’i sangat tidak cukup jika tidak dibarengi dengan ilmu-ilmu ‘realita’ lainnya. Maksud saya, seorang dai di AS harus mampu membekali diri dengan pengetahuan yang cukup tentang lingkungan dan bagaimana berinteraksi dengan lingkungan tersebut.
Orang-orang Amerika tentunya punya bahasa, tidak hanya bahasa komunikasi, tetapi juga yang paling penting adalah bahasa kultur, politik, bahkan bahasa ekonomi, dan pasar. Seorang dai di AS tidak dibatasi oleh dinding-dinding masjid, tapi menuntut pergaulan yang luas dan luwes, sehingga ajaran Islam ini dengan mudah terserap ke mindset yang sesuai.

Selain memberikan ceramah keagamaan, apa saja aktivitas Anda?
Ceramah bukan kegiatan utama saya dalam berdakwah. Ceramah saya dalam dakwah ini tidak lebih dari 25 persen. Justru yang paling banyak adalah membangun fondasi komunitas Muslim Amerika.
Tugas membangun fondasi ini dilakukan dalam banyak bentuk. Mulai dari merancang program untuk komunitas, terutama untuk anak-anak muda dan remaja, membangun networking antarkomunitas Muslim dengan berbagai ragam, kurikulum sekolah Islam, termasuk weekend school, hingga kepada kegiatan yang bersifat sosial budaya, seperti pawai tahunan Muslim kota New Yok yang dihadiri ribuan umat setiap tahunnya.
Namun, di antara kegiatan saya yang paling menonjol dan tidak banyak dilakukan oleh pemimpin Muslim lainnya adalah membangun relasi dengan komunitas lainnya. Saya di Kota New York memang dikenal sebagai sosok imam yang mampu menembus batas-batas ras, suku, dan agama. Artinya, saya dekat dengan semua Muslim dari beragam suku dan latar belakang.

Bagaimana hubungan Anda dengan tokoh-tokoh agama lain?
Di New York, saya dikenal aktif di kegiatan lintas iman. Sejak peristiwa 11 September, saya melihat bahwa tidak mungkin umat ini akan mampu menyelesaikan ‘miskonsepsi’ hanya dengan ceramah di mimbar-mimbar masjid. Dan tidak mungkin akan bisa diselesaikan dengan mengandalkan diri sendiri. Kita perlu reaching out ke berbagai pihak, dan bahkan perlu membangun kerja sama dalam rangka merubah ‘miskonsepsi’ tersebut.
Saya kemudian melakukan komunikasi dengan tokoh-tokoh Kristen, Katolik, bahkan Yahudi di kota New York. Selama hampir 10 tahun terakhir, sudah banyak kegiatan antaragama yang pernah saya lakukan. Di antaranya adalah mewakili umat Islam dalam acara Pray for America di Yankee Stadium dan Diskusi Pembangunan Berkesinambungan di Gedung Putih dengan para pemimpin agama lainnya.
Sejak tiga tahun terakhir, saya mencoba membangun relasi dengan tokoh-tokoh Yahudi. Tujuannya adalah mencoba menepis anggapan bahwa umat ini membenci Yahudi karena agamanya. Saya kira kita semua sepakat bahwa konflik Timur Tengah merupakan akar permasalahan antarkedua komunitas ini.
Jadi, hubungan saya dengan tokoh-tokoh agama lainnya, Yahudi, Kristen, Katolik, bahkan Hindu dan Buddha, sangat baik. Mereka memiliki confidence terhadap saya sehingga saya diberikan kesempatan luas untuk memberikan ceramah agama di institusi-institusi yang mereka miliki.

Sikap pemerintah AS terhadap kegiatan dakwah Anda?
Salah satu keunikan utama AS adalah penghormatan sepenuhnya kepada semua orang untuk melakukan agamanya bahkan mengampanyekan (jika istilah ini cocok) dengan agama masing-masing. Oleh karenanya, berdakwah di AS dijamin oleh undang-undang, selama itu dilakukan dalam koridor hukum yang ada.
Saya tidak mengingkari adanya pihak-pihak yang mungkin khawatir dengan perkembangan Islam di AS. Tapi, saya juga yakin bahwa pemerintah AS tidak akan melakukan sesuatu yang nantinya dianggap diskriminatif terhadap agama tertentu.

Anda tentu dituntut untuk menjelaskan hakikat Islam kepada masyarakat non-Muslim. Bagaimana Anda menjelaskan hal ini pasca peristiwa 11 September?
Partama, kita perlu perjelas sekali lagi bahwa peristiwa 11 September adalah tragedi kemanusiaan. Semuanya, termasuk umat Islam harus mengutuknya. Namun, respons yang terjadi kemudian, termasuk perang Irak, adalah tragedi kemanusiaan yang seharusnya ditentang bersama. Apa yang dilakukan oleh Presiden Bush ketika itu jelas-jelas bertentangan dengan hukum, termasuk hukum AS sendiri dan hukum internasional.
Selanjutnya, kita pahami bahwa tingkat kesalahpahaman kepada agama dan komunitas Muslim sangat tinggi setelah 11 September. Untuk itu, menghadapinya bukan sekedar ceramah-ceramah konvensional di masjid-masjid, tetapi memerlukan pendekatan komprehensif dan dengan profesionalitas yang matang.
Apa yang selama ini saya lakukan, selain tentunya melakukan berbagai pendekatan pendidikan, seperti ceramah-ceramah di gereja, sinagog, sekolah-sekolah dan bahkan kantor-kantor pemerintahan, juga kami lakukan pendekatan kepada media yang kira-kira ‘less hostile’.
Selain itu, saya buktikan dengan kerja nyata dalam membangun relasi dengan komunitas lain. Penjelasan bahwa Islam itu bersahabat tak cukup dengan ceramah, tapi perlu dengan kerja nyata dengan membangun relasi dengan semua, termasuk komunitas non-Muslim.
Memang tidak mudah, tapi alhamdulillah, upaya-upaya kita selama ini sudah mulai menampakkan hasilnya. Saya lebih optimistis lagi bahwa dalam tahun-tahun ke depan, Islam akan semakin dikenal dan kaum Muslimin di satu sisi juga akan menyadari urgensi untuk membangun relasi dengan para tetangganya.

Di mana letak perubahan kehidupan keagamaan masyarakat Muslim New York, dari sebelum Anda berdakwah dan setelah Anda berdakwah di tengah mereka?
Barangkali ada dua hal yang mendasar dari perubahan itu. Pertama, bahwa tragedi 11 September mengubah prilaku umat, khususnya dalam menyikapi tetangga-tetangga non-Muslim. Sebelum 11 September, masjid-masjid yang ekslusif cenderung tidak membuka diri dengan tetangga.
Hal ini menjadikan banyak tetangga yang kemudian curiga terhadap mereka dan kegiatan mereka. September 11 mengubah semua itu. Masjid-masjid membuka diri, berbagai kegiatan lintas iman diadakan secara rutin.
Kedua, tragedi 11 September juga merubah komposisi masyarakat Muslim AS. Sebelum peristiwa itu, pertumbuhan masyarakat Muslim masih didominasi oleh imigrasi Muslim dari negara-negara Muslim. Tapi, setelah peristiwa tersebut, peraturan imigrasi diperketat oleh pemerintah AS.
Namun sebaliknya, justru banyak masyarakat Amerika yang masuk Islam. Bagi saya, ini sebuah tren yang baik karena generasi baru Islam bukan lagi imigran, yang biasanya selalu merasa jadi tamu di negara sendiri.
Kedua kecenderungan itu semakin menambah solidaritas masyarakat Muslim Amerika, dan bahkan saya yakin bahwa ke depan Muslim Amerika akan menjadi bagian integral masyarakat Amerika yang memberikan kontribusi positifnya. Ini sudah mulai tampak di berbagai tingkatan kehidupan, baik di bidang politik, ekonomi, budaya, sosial, maupun keilmuan dan militer.

Bagaimana Anda yakin masyarakat Muslim AS bisa berkontribusi positif dalam membangun negaranya?
Kalau kita mempelajari sejarah imigran di Amerika, seperti imigran Yahudi, Italia, Irish, dan lain-lain maka imigran Muslim sebenarnya berada pada posisi yang sangat menguntungkan. Puncak tantangan bagi masyarakat Muslim adalah 11 September. Namun, dengan lancar dan dalam waktu yang singkat semua itu dapat dilalui dengan baik.
Misalnya, bandingkan dengan imigran Yahudi. Hingga ratusan tahun mereka harus hidup dalam suasana yang tidak menyenangkan. Apa yang disebut antisemitic ketika itu sangat tinggi, dan mereka diperlakukan sangat tidak manusiawi. Tapi kini, mereka menjadi masyarakat yang terhormat.
Maksud saya, ini hanya masalah waktu saja. Sebenarnya kalau kita melihat komposisi masyarakat Amerika dari sudut pengelompokan agama, umat Islam berada pada posisi yang menyenangkan. Rata-rata relatif muda, terdidik, memiliki penghasilan yang rata-ratanya lebih tinggi dari rata-rata penghasilan masyarakat Amerika. Yang lebih penting, mereka sudah memainkan peranan sosial politik yang cukup menentukan. Ada dua orang anggota Kongres yang Muslim, yaitu penasihat presiden Obama dan seorang wanita keturunan Mesir.
Saya sangat optimis, seiring Islam yang sudah mulai dipersepsikan oleh masyarakat Amerika secara lebih positif, umat Islam akan dengan lancar menjalin proses ‘integrasi positif’ ke dalam mainstream Amerika. Pada akhirnya akan memberikan kontribusi-kontribusinya secara positif kepada negara dan bangsa ini di masa depan.
Sumber berita : Koran republika online

Hidup Islami dengan Teknologi

Posted by video download On 09.39

Syariah Publications. Kemajuan teknologi, khususnya di bidang Teknologi Informasi atau sering disebut TI benar-benar spektakuler pada dua dasawarsa terakhir. Ramalan Bill Gates, “raja” software dari Amerika Serikat benar-benar terbukti. Tahun 1990-an terjadi booming di dunia komputer dan internet yang sebelumnya hanya dipakai di kalangan terbatas.

Kampung dunia pun benar-benar terjadi. Batas-batas negara dan ideologi seakan-akan telah terhapuskan. Kini, kita bisa berkomunikasi langsung face to face dengan berbagai orang dari seluruh dunia. Biayanya, sangat murah. Hanya sebesar biaya akses internet.

Terhapusnya batas-batas negara dan ideologi inilah yang pada akhirnya memunculkan masalah. Negeri-negeri Barat seperti AS, Inggris, Perancis, dan sekutunya yang memimpin perkembangan teknologi dunia saat ini, berideologi sekuler liberal. Sementara itu, negeri-negeri Timur seperti Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan lain-lain berlatar belakang ideologi Islam.

Masyarakat Barat yang pada awalnya awam terhadap ilmu-ilmu Islam, kini dengan mudah bisa mengakses sumber-sumber ilmu keislaman. Tidak mengherankan jika banyak bule yang sudah fasih membaca Al Quran. Kemajuan teknologi memudahkan mereka menemukan hidayah dengan masuk Islam.

Di sisi lain, masyarakat Timur seperti Indonesia, dengan mudah bisa mengakses sumber-sumber ilmu dan kebudayaan dari Barat. Kita bisa dengan mudah mengakses berbagai perpustakaan digital (digital library) yang disediakan berbagai universitas di luar negeri. Sayangnya, kemudahan akses ini tidak selalu dikawal dengan pemahaman Islam yang baik. Oleh karena itu, banyak remaja kita yang saat ini menghabiskan waktunya “menongkrongi” layar komputer, bukan untuk mengakses informasi dan ilmu bermanfaat, tetapi justru mengakses salah satu sampah peradaban Barat, yaitu pornografi.

Repotnya, regulasi pemerintah sampai saat ini belum jelas benar. Belum terlihat upaya serius untuk mencegah (mengeblok) situs-situs berkategori XXX tersebut. Padahal, sebenarnya hal itu mudah dilakukan.

Sikap Umat Islam

Terkait hadirnya ilmu dan budaya dari Barat, umat Islam terpecah dalam tiga golongan pendapat.

Pertama, mereka yang menerima sepenuhnya Barat. Mereka berpendapat, saat ini pemimpin dunia adalah Barat. Kalau kita ingin maju, maka kita harus menerima sepenuhnya semua yang datang dari Barat.

Kedua, mereka yang menolak sepenuhnya Barat. Kalangan ini mengatakan bahwa bangsa Barat adalah kafir sehingga haram hukumnya umat Islam meniru bangsa Barat, baik sedikit ataupun banyak.

Ketiga, mereka yang menerima Barat dalam bidang tertentu, tetapi juga menolak dalam bidang tertentu. Kalangan ini mengatakan bahwa bangsa Barat memang kafir, tetapi tidak semua hal yang dibawa orang kafir pasti jelek. Diperlukan filter untuk menyaring mana yang boleh ditiru dan mana yang harus ditolak.

Dari ketiga pendapat di atas, kami cenderung setuju pada pendapat ketiga. Pembahasan penting berikutnya adalah, bagaimana penyaringan itu?

Strategi Penyaringan

Secara faktual, kita menemukan dua hal yang berbeda dalam pembahasan peradaban, yaitu pemikiran (hadlarah) dan benda (madaniyah), baik madaniyah khas (terkait hadlarah) maupun madaniyah umum (tidak terkait hadlarah).

Penjelasan ringkas masing-masing istilah di atas adalah sebagai berikut. Hadlarah adalah sekumpulan pemahaman tentang kehidupan. Sifatnya khas, sesuai dengan pandangan hidup (ideologi) yang dianut. Sedangkan madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Madaniyah bisa bersifat khas (untuk umat tertentu), bisa pula bersifat umum (untuk seluruh umat manusia). Madaniyah yang dihasilkan dari hadlarah bersifat khas, misalnya film porno, sex toys, dan ATM kondom. Madaniyah yang dihasilkan oleh kemajuan sains dan perkembangan teknologi adalah madaniyah yang bersifat umum. Madaniyah umum ini tidak dimiliki secara khusus oleh suatu umat tertentu, akan tetapi bersifat universal. Contohnya adalah komputer, PDA, handphone, internet, dan lain sebagainya.

Hadlarah asing dan madaniyah khas asing termasuk suatu hal yang wajib dijauhi umat Islam. Peniruan dan penyebarannya berarti tindak kemaksiatan terhadap Allah. Sementara itu, madaniyah umum boleh untuk diambil dan ditiru.

Selain itu, kita juga harus memahami perbedaan antara ilmu dengan tsaqofah. Sebagian umat Islam mengatakan bahwa pengetahuan khas Barat seperti ilmu politik sekuler, ekonomi neo liberal, dan lain sebagainya dianggap sama universalnya dengan sains dan teknologi. Ini adalah kekeliruan besar. Faktanya, berbagai pemikiran politik dan ekonomi dari Barat sarat dengan nilai-nilai khas ideologi kapitalisme sekuler liberal (yang sudah diharamkan penyebarannya oleh MUI melalui salah satu fatwanya). Sangat berbeda dengan ilmu-ilmu kedokteran, kimia, fisika, dan astronomi.

Aplikasi Teknologi Dakwah

Saat penyebaran kemaksiatan semakin maju dan canggih, maka seharusnya dakwah lebih maju dan lebih canggih. Oleh karena itu, sikap ogah-ogahan dalam mempelajari teknologi adalah salah. Mempelajari teknologi termasuk fardlu kifayah bagi umat Islam.

Kemajuan teknologi bisa kita manfaatkan untuk kemajuan dakwah. Berikut ini kami sampaikan beberapa contoh aplikasi teknologi yang mendukung dakwah.

1. Website dan Webblog Islami

Website dan webblog termasuk salah satu media dakwah yang efektif. Ratusan juta manusia di seluruh dunia mengakses internet dan jumlahnya semakin bertambah dari waktu ke waktu. Beberapa website Islami dengan segmen remaja yang baik untuk dikunjungi adalah : www.studia-online.com, www.islamuda.com, dan www.muslimuda.com. Webblog Islami : www.famhar.multiply.com (teknologi dan dakwah), www.konsultasi.wordpress.com (konsultasi agama), dan www.fervorspirit.blogspot.com (motivasi hidup).

2. Film Islami

Film juga efektif untuk penyebaran ilmu Islam. Orang-orang Barat telah lama memproduksi film untuk tujuan penyebaran ilmu pengetahuan, seperti The Discovery Channel, National Geographic, BBC London, dan lain sebagainya. Saat ini juga telah muncul film-film pengetahuan yang Islami, misalnya film-film produksi Harun Yahya (OKUR Production), Khilafah Publications, An Nahda Production, Media Islam Gemilang (MIG), dan El Moesa Production.

3. Digital Library

Sesuai namanya, Digital Library adalah Perpustakaan Digital. Tidak seperti lazimnya perpustakaan yang menampung bertumpuk-tumpuk buku (kertas) seperti yang selama ini kita kenal, Digital Library sangat berbeda. Ia menampung sumber-sumber ilmu pengetahuan itu dalam format digital, misalnya ebook. Bentuknya bisa bermacam-macam, bisa berupa website bisa juga berupa CD. Salah satu contoh produknya adalah CD Digital Journal Al Manar yang diproduksi oleh mahasiswa-mahasiswa Islam yang tergabung dalam Digital Library Project Community, Fisipol UGM.

4. Software Islami

Berbagai software Islami sangat membantu kita yang ingin hidup Islami. Beberapa contohnya adalah : The Holy Qur’an Program (Al Quran dan terjemahnya), Hadith Encyclopedia (kumpulan sembilan kitab hadits, yang memuat 62.000 hadits, setara dengan 25.000 halaman buku yang lengkap dengan penjelasannya), Masjid 2000: Ensiklopedi Masjid Se-Indonesia, Shollu (jadwal sholat dan penyuara adzan), Mawaqit Shalah (pengingat waktu sholat, aplikasi berbasis Java untuk HP), Hijri (penunjuk tanggal hijriyah, aplikasi berbasis Java untuk HP), dan masih banyak lagi.

Teknologi bak pisau bermata dua. Pemegangnyalah yang menentukan apakah akan digunakan untuk kebaikan dan pembelaan terhadap Islam ataukah justru untuk menikam kaum muslimin sendiri. Insya Allah, kita semua bisa mulai mengaplikasikan teknologi dakwah ini dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam bishshowab


Oleh : Farid Ma’ruf (Praktisi Cyber Dakwah, Pengelola Jaringan Situs Syariah Publications)

* Makalah disampaikan dalam Seminar Remaja dan Teknologi dengan tema “Teknogrogi? Nggak Banget…” yang diselenggarakan oleh Lembaga Studia bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis 28 Juni 2007 di Ruang Seminar Gedung AR Fakhruddin, Kampus Terpadu UMY.

Jumat, 21 Januari 2011

Jika Anda Bingung

Posted by video download On 08.36

Sering orang mengatakan “Saya bingung” terlalu banyak pilihan. Banyak partai, bingung mau milih yang mana. Banyak peluang bisnis, bingung mau fokus yang mana. Banyak strategi bisnis, bingung mau menerapkan yang mana.

Anda pernah mengalaminya? Atau bahkan sedang mengalaminya?

Jika jawaban ya, artinya ada sesuatu yang perlu dibenahi dalam pemikiran Anda. Informasi yang banyak juga diterima oleh orang-orang sukses, tetapi mereka mampu memilih yang terbaik. Kenapa? Karena mereka memiliki kualitas pemikiran tertentu. Apa kualitas pemikiran tersebut?

Jangan Berhenti Karena Bingung

Anda tidak tahu segalanya. Ilmu itu sangat luas. Maka jika Anda merasa bingung, itu adalah wajar. Semua orang akan bingung saat menemukan sesuatu yang baru, menemukan banyak pilihan, atau menemukan banyak informasi. Namun, yang terpenting adalah jangan sampai bingung menghentikan Anda untuk berusaha. Banyak orang yang bingung kemudian dia menjadi berhenti untuk belajar dan mendapatkan informasi. Ini yang salah!

Saat Anda berhenti belajar dan mendapatkan informasi, ini adalah sebuah kerugian besar. Dunia cepat berubah, jika Anda ketinggalan informasi maka Anda akan tergilas oleh perubahan. Cara atau strategi yang bekerja hari ini, belum tentu akan bekerja besok hari. Jika Anda tidak mengupdate informasi, artinya Anda seperti tempurung dalam katak, eh, katak dalam tempurung. :)

Bingung? Terimalah

Ada yang berkata, semakin banyak kita belajar kita akan sadar bahwa banyak hal yang belum kita ketahui. Jadi, tidak mungkin kita mengetahui segalanya. Terima saja bingung karena itu adalah proses dari belajar. Jika tidak bingung, artinya Anda sudah tahu segalanya atau merasa tahu segalanya. Padahal itu tidak mungkin.

Semua orang mengalami kebingungan. Yang membedakan orang sukses dan tidak adalah bagaimana menyikapi kebingungan tersebut. Terima saja.

Tidak semua harus ada jawabannya. Anda boleh menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang belum ada jawabannya. Carilah jawaban, belajar terus, dan suatu saat Anda akan menemukannya.

Jangan menghindari bingung, menghindari bingung artinya Anda menutup diri untuk belajar dan menerima informasi terbaru.

Bingung Terlalu Banyak Pekerjaan?

Dalam bekerja atau berbisnis, pastinya kita akan mendapatkan tambahan tugas secara terus menerus. Kemudian akan banyak ide-ide baru untuk menjalankan bisnis atau bekerja dari informasi yang terus Anda dapatkan. Lalu, harus bagaimana? Stress?

Tidak perlu stress, sebenarnya ada caranya untuk mengatasi overload tersebut. Saya menjelaskannya pada Modul 7 Revolusi Waktu yang pada intinya ialah kita mencatat dan mereview tugas dan informasi tersebut. Kemudian putuskan mana yang akan kita kerjakan.

Kesimpulan

Bingung adalah sesuatu yang wajar. Yang penting jangan menyerah, tetaplah belajar, dan miliki kemampuan bagaimana mengelola informasi yang banyak sehingga kita tetap mendapatkan update perkembangan jaman dan memetik manfaatnya tanpa harus bingung.


http://www.motivasi-islami.com

Lebih Cerdas dengan Berkata Jujur

Posted by video download On 08.22

Oleh :Kholili Hasib
Menurut seorang psikolog orang yang sering berkata tidak jujur (bohong), lambat laun menjadi kebiasaan yang sulit dihambat. Bila tidak berbohong terasa ada keberatan dalam jiwanya. Maka terbiasalah ia berdusta. Seolah jika tidak berdusta mulutnya terasa gatal.

Pertama kali seseorang berbuat dusta atau berbohong, biasanya ia akan merasa menyesal. Akan tetapi, ketika perbuatan bohong atau dusta itu sering dilakukan beberapa kali, ia akan merasa biasa saja, bahkan mulai pudar rasa penyesalannya.

Kebiasaaan ini akan merugikan pribadi dan agamanya. Misalnya, dalam pergaulan ia bisa dijauhi orang lain. Bagi agama, perbuatan itu berimplikasi pada kadar keimanan.

Seorang ulama bernama Syeikh Abu Sa’id al-Qarsyi pernah mengatakan, “Orang jujur itu adalah orang yang mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian. Sehinga ia tidak pernah malu mengakui kelemahan dirinya.”

Sikap jujur akan mengisi energi ke dalam pikiran intelektualitas sekaligus spiritualtias. Sifat ini mampu memberi energi positif untuk pengembangan keilmuan dan intelektualitas. Lebih-lebih, bagi seorang ilmuan. Jujur, menjadi faktor kemajuan intelektualitasnya.

Peneliti sejati bukanlah yang selalu menjiplak karya orang atau mengutip secara tidak jujur. Kebiasaan buruk ini justru menurunkan derajat intelektualitasnya. Menjadi peneliti yang baik, mesti mengakui kelemahannya, jika tidak, dia tidak menghasilkan karya yang baik.

Pengakuan akan kelemahan inilah yang kadang kala tidak ringan dilakukan. Sebagaiman anasihat Syeikh al-Qarsyi, “seharusnya seorang ilmuan tidak malu jika kelemahannya diketahui.” Sebab, dengan terbukanya kelemahan, berarti akan ada kesempatan untuk memperbaikinya.

Sebaliknya jika dia tidak jujur mengakui kelemahan, namun tetap kukuh menutupi ke-jahilan-nya, maka pintu untuk mengembangkan diri menjadi pintar tertutup. Tak ada kesempatan untuk tingkatkan derajat keilmuannya karena merasa sudah intelek. Jadilah ia seperti katak dalam tempurung. Ketidak jujuran menghasilkan keangkuhan. Keangkuhan berakibat satisnya tingkat keilmuannya.

Jujur dan kematian

Implikasi sikap jujur memiliki dua dimensi. Pertama, Meningkatkan kinerja seseorang dalam pekerjaannya. Kejujuran itu merupakan inti emotional quotient (kecerdasan emosional). Para peneliti menemukan bahwa kecerdasan emosional adalah faktor paling utama menentukan kesuksesan bekerja. Ini adalah sikap cerdas pada dimensi dunia.

Kedua, cerdas pada dimensi akhirat. Di sini, sikap jujur adalah buah dari keimanan yang sempurna. Karena sempurna imannya, maka ia tidak menyia-nyiakan perilakunya. Ia memprioritaskan perilakuknya kepada yang hal yang bermanfaat. Ia sadar bahwa berbohong tidak menguntungkan dalam berkawan, lebih-lebih akan merugikan nasib di akhirat.

Makanya, ia tidak sembarangan menjalani setiap detik nafas hidupnya, tidak main-main dengan gerak-gerik perilaku dan ucapannya.

Dalam sebuah hadis dijelaskan, “Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian.” (HR Tirmidzi). Inilah arti kecerdasan yang sesungguhnya.

Hal ini menguatkan pendapat Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jilaniy, bahwa akhlak terpuji selalu tergantung dengan konsep keimannannya, sebagaimana ditegaskan oleh Imama al-Wasithy, bahwa jujur itu sebenarnya adalah kebersihan tauhid.

Sehingga dengan mengikuti nasihat Imam Abu Sa’id al-Qarsyi di atas, maka seorang muslim yang shiddiq (jujur) selalu ingat kematian, setiap aktifitasnya selalu dipertimbangkan, apakah membawa manfaat untuk bekal setelah nyawa ini dicabut atau tidak. Inilah yang disebut manusia cerdas.

Ketidakmampuan dan kelemahan diri juga mesti diakui. Pengakuan ini akan menjadi pemacu semangat berbenah diri.

Ketidakjujuran dalam mengakui kelemahan atau kekurangan sering terjadi pada banyak orang. Maka sering pula sebagian orang melontarkan kata-kata sombongnya, “Saya sudah baik, tabungan pahala lumayan, tak perlu dinasihati dan tak butuh nasehat Anda.”

Sebaliknya, seorang yang jujur mengakui kelemahan yang ada dalam dirinya, selalu merasa masih banyak dosa, memerlukan bimbingan, banyak belajar dan akan terus berpacu menyempurnakan segala kelemahannya.

Inilah yang bernama riyadlah. Berat memang. Kecuali bagi orang yang jujur dan tawadlu’. Sedangkan orang yang angkuh, berat untuk mengakui kelemahan diri, dan berusaha menutupinya agar disebut manusia sempurna. Orang jenis ini ini menipu dirinya. Ia Ingkar pada hati nurani.

Makanya, untuk mencapai kesempurnaan, hati perlu mengakui akan kesalahan. Pengakuan ini bisa kita mulai dengan mengkalkulasi dosa setiap harinya. Sediakan waktu sejenak untuk bermuhasabah. Berapa kali kita lakukan dosa hari ini? Kemudian bandingkan, seberapa banyak syukur kita pada Allah SAW?

Jika kita masih tetap saja kukuh membohongi diri, maka perlu dicatat, mulut tak akan bisa berbohong di alam kubur kelak. Segalanya akan berlaku sebagaimana adanya kondisi seseorang. Lebiha baik jujur di dunia dengan menerima hinaan manusia, daripada kita tutupi diri untuk mengesankan sebagai orang ‘hebat’ di dunia, akan tetapi di akhirat disiksa.

Walau sepintar apa kita di dunia, bila kita inkar pada-Nya, mulut kita yang dulu pintar tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi pertanyaan malaikat Munkar Nakir, kecuali sebagaimana adanya. Kita tak mungkin bermanipulasi pada waktu itu. Semua jasad kita akan menjadi saksi kebohongan-kebohongan. Jadi berbohong menjadi energy negatif yang akan menghancurkan kehidupan kita. Na’udzu billah mindzaalik.[hidayatullah.com]

Hakekat Do'a dan Tempat mustajab berdo'a

Posted by video download On 06.06

Do’a hakikatnya adalah penuntun kita untuk mengubah diri. Hidup kita tidaklah hitam-putih sebagaimana televise zaman dahulu.Ia tidak pula sestatatis laut mati, namaun senantiasa bergerak, penuh dengan tantangan dan kebutuhan. Melalului kedua hal inilah Allah hendak menguji, mana hamba yang tetap dalam fitrah kesucian dan mana yang tidak. Lewat runtutan musibah ini, Allah SWT, hendak membaguskan pribadi kita. Bagusnya pribadi yang berawal dari perubahandiri, perubahan diri inilah yang menjadi esensi dari do’a yang kita panjatkan. Ibn Atha’illah menuturkan dalam kitabnya yang terkenal Al- Hikam.
“Bagaimana engkau menginginkan sesuatu yang luar biasa padahal engkau sendiri tak mengubah dirimu dari kebiasa-anmu? Kita banyak meminta dan banyak berharap kepada Allah, tetapi sibuknya meminta kadang membuat kita tak sempat menilai diri sendiri. Padahal kalau kita meminta dan berakibat kita mengubah diri, Allah akan memberikan apa yang kita minta karena sebetulnya do’a itu adalah pengiring agar kita bisa mengubah diri kita.. Jika kita tidak pernah mau mengubah diri kita menjadi lebih baik, tentu ada yang salah dalam permintaan kita”

Memang, kekuatan seseorang dalam mengubah dirinya dapat menjadi salah satu factor kunci kesuksesan memburu pertolongan Allah. Jadi, andaikata saat ini hidup terus-menerus sempit, hidup amburadul, utang tak juga berkurang, keluarga berantakan,musibah tak jua berhenti, masalah silih berganti, tidak henti-hentinya semua persoalan hidup ini, jelas ada yang salah dengan diri kita.Itu semua bukan berarti Allah tidak memperhatikan permohonan hamba-hamba-Nya. Namun amat mungkin, sebabnya ialah karena hamba itu tidak mau membenahi dirinya. Enggan lepas dari kebiasaan-kebiasaan buruknya, merasa sungkan untuk meningkatkan ibadah.
Sesungguhnya Allah SWT, benar-benar akan mengabulkan do’a setiap hamba-Nya sebagaimana termaktup dalam Al-Qur’an Surah Al=Baqarah ayat 186:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya padamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo’a apabila ia mendo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada di dalam kebenaran.”
Jadi, sekali lagi, intropeksi diri!! Lihat kekurangan-kekurangan kita. Lakukan apa yang mesti kita lakukan agar Allah berkenan mengabulkan do’a kita. Kekuatan do’apada dasarnya akan menjadi efektif apabila kita sanggup mengubah diri kita melalui do’a itu. Ibarat tanaman, kekuatan kita untuk mengubah diri adalah bibitnya. Sementara itu, do’a itu sendiri adalah pupuknya. Pupuk akan membuat bibit tumbuh sedemikian pesat, berbuah banyak dengan bunga dan daun yang lebat. Namun, apabila kita terus-menerus menebar pupuk tanpa sedikitpun bibit kita tanam, lantas apa yang akan tumbuh?

“Dan Tuhanmu berkata ,Berdo’alah kamu kepada-Ku, Pasti akan kuperkenankan permintaanmu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina-dina” (Q.S. Al Mu’min : 60).

Pengertian berdo’a adalah memohon atau meminta pertolongan kepada Allah SWT, tetapi bukan berarti hanya orang yang terkena musibah saja yang layak memanjatkan do’a. Sebagai seorang Muslim kita layak berdo’a walaupun kita dalam keadaan sehat. Do’a merupakan unsur yang palin esensial dalam ibadah.

Sebagaimana Sabda Rasulullah saw “Do’a itu ibadah” (H.R. Abu Daud, Tirmizi, Nasai dan Ibnu Majah). “Tiada sesuatu yang paling mulia dalam pandangan Allah, selain dari berdo’a kepada-Nya, sedang kita dalam keadaan lapang”(H.R. Al Hakim). Didalam berdo’a ada tata cara. waktu dan tempat berdo’a.

1. Tata cara berdo’a

a. Menghadap Kiblat

Hal ini berdasarkan sebuah hadis “Rasulullah datang ketempat wuquf di Arafah dan ia menghadap kiblat lalu terus menerus berdo’a sehingga tenggelam matahari”

b. Membaca Hamdalah atau pujian, Istighfar dan membaca Shalawat

Salah seorang Sahabat Nabi berkata : “Ketika Nabi Muhammad saw duduk dimesjid, tiba-tiba datang seorang laki-laki masuk, lalu ia shalat. Setelah selesai ia membaca doa,’Allahummaghfirlii warhamnii’. Maka waktu itu Rasulullah pun berkata, wahai kawan, engkau terburu-buru. Jika kau shalat, duduklah dahulu kemudian bacalah puji-pujian kepada Allah. Karena dia yang memiliki pujian itu, lalu kau baca shalawat kepadaku kemudian baru berdo’a .Kemudian datang seorang yang lain setelah shalat ia memuji Allah dan membaca shalawat untuk Nabi Muhammad saw. dan setelah itu Nabi bersabda, Berdo’alah akan dipenuhi.”

c. Dengan suara lembut dan rasa takut

Sebagaimana Firman Allah SWT yang berbunyi, “Berserulah (Berdo’a) kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah engkau berbuat kerusakan dibumi sesudah (Allah SWT ) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak diterima) dan harap (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al A’raf : 55-56)
d. Yakin akan dipenuhi

Di dalam berdoa kita harus yakin dan berprasangka baik kepada Allah, seperti hadis berikut ini : “Sesungguhnya Alla ‘Azza wa Jalla berfirman : Aku akan mengikuti prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku selalu menyertainya apa bila ia berdoa kepada-Ku”.

2. Waktu yang paling baik

a. Antara azan dan Iqamat.
b. Menjelang waktu shalat dan sesudahnya.
c. Waktu sepertiga malam yang terakhir.
d. Sepanjang hari jum’at
e. Antara Dzuhur dan Ashar, serta Ashar dan Maghrib
f. Ketika Khatam membaca Al-Qur’an
g. Ketika Turun hujan.
h. Ketika melakukan Tawaf.
i. Ketika menghadapi musuh dimedan perang.

3. Tempat-tempat yang baik untuk berdo’a

a. Di depan dan di dalam Kabah.
b. Di masjid Rasulullah saw.
c. Di belakang makam Nabi Ibrahim as.
d. Di atas bukit Safa dan Marwah.
e. Di Arafah, di Muzalifah, di Mina dan disisi jamarat yang tiga.
f. Di tempat-tempat yang mulia lainnya seperti Masjid atau Mushalla.


Rabu, 19 Januari 2011

Dakwah Islam di Penjara AS

Posted by video download On 07.05

Dakwah Islam di Penjara-Penjara AS, Banyak Tahanan Masuk Islam
Para tahanan di lembaga pemasyarakatan Monroe Correctional Complex, AS dengan tertib keluar sel masing-masing begitu mendengar pengumuman dari pengeras suara bahwa waktu istirahat tiba. Para tahanan bergerombol memanfaatkan waktu istirahat mereka dengan menghadiri sejumlah kelas bimbingan atau sekedar membaca buku ke perpustakaan. Tapi diantara mereka, ada sekelompok tahanan yang mengenakan peci berbentuk bulat, menuju ke sebuah ruangan yang tak berjendela.

Mereka membuka sepatu sebelum masuk ruangan, kemudian duduk sambil melemaskan kaki mereka di atas karpet tipis yang digelar di ruangan tersebut. Ya, mereka adalah para tahanan yang beragama Islam yang biasanya mendapatkan layanan rohani dari ustadz pembimbing mereka. Kebanyakan para tahanan itu adalah para mualaf, yang masuk Islam saat menjalani hukumannya di penjara.

"Penjara bisa menjadi kuburan atau menjadi rahim," kata mereka. Para penghuni penjara punya pilihan apakah akan menghabiskan waktuny di dalam penjara dengan meratapi nasibnya atau memanfaatkan waktu untuk meredam rasa marah atau rasa takut bahkan rasa putus asa yang mendera diri mereka. Dan Anthony Waller, salah seorang tahanan memilih pilihan kedua. Seperti banyak Muslim lainnya di kawasan Twin Rivers, Waller masuk Islam ketika berada di balik jeruji besi penjara.

Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Waller mengaku kehidupannya banyak berubah. "Kalau saya tidak menjadi seorang Muslim, saya kemungkinan masih berada dalam pengawasan ketat atau mungkin saya sudah mati," ujar Waller,31, seraya mengatakan betapa ketatnya penjagaan dan kontrol di penjara.

Masa hukuman Waller baru akan berakhir tahun 2033. Selama di dalam penjara Waller menghadiri bimbingan rohani Muslim setiap seminggu sekali dengan belasan tahanan Muslim yang lebih dulu menjadi mualaf. Dan ternyata "kelompok Muslim" adalah kelompok yang paling cepat berkembang di sejumlah lembaga pemasyarakatan di AS, artinya, jumlah tahanan yang masuk Islam bertambah dengan cepat.

Bimbingan rohani Islam di penjara-penjara AS dimulai pada era tahun 1970-an atas prakarsa pemimpin organisasi Muslim Nation of Islam, Louis Farrakhan. Profesor di Vassar College, Lawrence Mamiya yang meneliti keberadaan tahanan Muslim di penjara-penjara AS mengatakan, keterlibatan para imam Muslim di AS sangat efektif dalam upaya rehabilitasi keagamaan para tahanan.

Menurut Mamiya, dipekirakan 10 persen dari seluruh tahanan yang ada di penjara AS memilih masuk Islam. Itu artinya, sekitar 1.800 dari 18.000 jumlah tahanan di penjara-penjara AS menjadi seorang Muslim. Tapi, kata Mamiya, hanya satu dari lima mualaf yang masuk Islam selama di penjara tetap menjaga keislamannya setelah menghirup udara bebas. Hal ini membuat sejumlah pengamat di AS berpendapat bahwa "Islam di Penjara" bukan sebuah gerakan religius tapi lebih pada taktik yang dilakukan oleh sebuah genk di dalam penjara yang ingin mendapatkan perlakuan khusus atau istimewa, antara lain diberikan ruang tersendiri yang dilengkapi karpet.

Daya Tarik Islam

Namun pendapat itu dibantah oleh sejumlah imam yang sering memberikan layanan rohani di penjara. Mereka mengatakan bahwa banyak diantara para mualaf di tahanan yang memang tulus ingin menjadi seorang Muslim.

Faheem Siddiq, yang sudah lebih dari lima tahun memberikan bimbingan rohani Islam di sejumlah lembaga pemasyarakatan di AS mengungkapkan, tahanan yang masuk Islam kebanyakan tahanan dari kalangan keturunan Afrika Amerika. Mereka tertarik masuk Islam, kata Siddiq, karena ajaran Islam yang tentang kedisiplinan dan kesetaraan antara sesama manusia.

"Di negara bagian Washington, dari Walla Walla sampai McNeil Island, mayoritas mualaf adalah kalangan warga Amerika keturunan Afrika yang berpendapatan rendah, mereka punya kesempatan di tengah situasi yang tenang untuk melakukan introspeksi dan mengubah kehidupan mereka," kata Siddiq.

Profesor Mamiya juga mengakui tahanan Muslim lebih memiliki rasa tanggung dan disiplin. Tahanan Muslim juga saling melindungi dan rasa setia kawan yang tinggi, mengingat kehidupan penjara yang keras. Namun, kata Mamiya, tahanan Muslim memahami Islam mengajarkan etika ketika seseorang harus mempertahankan diri.

"Ajaran ini yang menjadi salah satu daya tarik bagi para tahanan untuk memeluk Islam," kata Mamiya.

Setiap tahanan yang memilih menjadi seorang Muslim, punya alasan masing-masing. Salah seorang tahanan yang masuk Islam sejak 11 tahun yang lalu, Walter Taylor menuturkan kisahnya mengapa ia memilih menjadi seorang Muslim.

"Dalam agama Kristen, Yesus Kristus mati untuk menebus dosa. Dalam Islam, tidak dikenal penebusan dosa, tidak ada yang dikambinghitamkan untuk menebus dosa," kata Taylor.

Setelah menjadi seorang Muslim, bersama dengan tahanan Muslim lainnya, Taylor selalu berusaha menunaikan kewajiban salat lima waktu setiap hari. Salat bagi Taylor, ibarat pengingat yang menuntunnya untuk tetap di jalan yang lurus, jalan Islam.

Lain lagi pengalaman Phil Thomes, ia mengatakan,"Menjadi seorang Muslim adalah hal tersulit yang mungkin bisa Anda lakukan. Menjadi seorang Kristiani saja tidak cukup. Sekarang, Islam total menjadi cara hidup saya, yang memang ingin melakukan perubahan"

"Saya bukan orang yang jahat lagi. Saya benar-benar sudah menjadi orang yang baru," tukas Thomes yang sudah menjalani masa tahanan selama 12 tahun.

John Barnes, yang juga menjadi pembimbing rohani di penjara-penjara AS mengatakan, kebanyakan tahanan yang pindah ke agama tertentu menunjukkan perubahan yang drastis selama berada dalam penjara.

"Mereka mengubah karakter mereka. Mereka lebih bertanggung jawab, tidak egois dan mau berbaur serta terlibat dalam tim. Saya sering melihat perubahan itu," ujar Barnes. (ln/isc/Heraldnet)
http://eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/dakwah-islam-di-penjara-penjara-as-banyak-tahanan-masuk-islam.htm

Hemat Pangkal Kaya – Betulkah?

Posted by video download On 06.50

Masih tentang pepatah yang sering kita dengar, yaitu hemat pangkal kaya. Berhemat adalah perbuatan yang mulia, tetapi betulkah akan membuat kita kaya? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu membahasnya lebih mendalam. Sebab dalam prakteknya, berhemat tidak otomatis menjadi kaya, bahkan jika salah kaprah, berhemat akan membuat kita miskin. Koq bisa?

Menghemat memang bisa membuat kita kaya, jika kita berhemat dengan cara yang benar. Ada juga berhemat tidak mengubah kehidupan seseorang. Bahkan ada juga berhemat yang akan menjadikan kita miskin. Jadi ada 3 macam berhemat, Anda melakukan yang mana saat ini? Jangan-jangan, Anda melakukan berhemat yang malah menjadikan miskin.

Salah Kaprah Hemat Pangkal Kaya

Ada empat kesalahan dalam berhemat. Bukan berhematnya yang salah, tetapi kesalahan terletak pada menempatkannya dan bagaimana cara kita menyikapinya. Keempat kesalahan ini akan membuat kita miskin.

Pertama: Saking berhematnya, banyak orang yang tidak mau shadaqah atau infaq dijalan Allah. Padahal bershadaqah akan melipatgandakan rezeki kita. Itu janji Allah, banyak hadits dan Al Quran yang menjelaskan hal ini. Yang penting kita ikhlash beshadaqah hanya kepada Allah, dan Allah telah berjanji akan mengganti dan melipatgandakan harta kita. Jika tidak mau bershadaqah bukankah berkesan kita tidak mau digandakan rezeki kita?

Kedua: Karena berhemat, hidup jadi sengsara. Makan ngirit, pakaian ngirit, rumah ngirit, segala ngirit sehingga hidup terasa sengsara jauh dibawah kemampuan kita. Artinya hemat yang berlebihan. Kenapa sikap seperti ini akan membuat kita miskin? Sebab mindset kita akan mengatakan bahwa kita adalah orang yang serba kekurangan, mindset kita akan mengatakan bahwa kita miskin, sehingga pikiran dan tindakan kita pun akan seperti orang miskin.

Artinya kita boleh berhemat, tetapi jangan berlebihan dalam berhemat. Tahan pengeluaran untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu, namun menikmati rezeki dari Allah, agar keluarga bisa tersenyum, selama tidak berlebihan dan didalam batas kemampuan, bukanlah pemborosan. Ini bisa menjadi bentuk syukur dan nafkah batin bagi keluarga. Rekreasi, jalan-jalan, dan makan di luar sesekali itu boleh-boleh saja. Yang tidak boleh adalah: terus-menerus sehingga bukan hanya menghabiskan uang, bahkan justru malah tekor.

Ketiga: tidak mau berinvestasi. Jika Anda memiliki penghasilan Rp 5.000.000 per bulan, berapa penghematan yang bisa Anda lakukan? Rp 3.000.000? Atau Rp 2.000.000? Atau Rp 1.000.000? Atau Rp 500.000? Atau Rp 100.000? Jika jawaban terakhir yang benar, artinya Anda belum bisa berhemat sama sekali. Penghematan paling besar yang bisa Anda dapatkan adalah Rp 5.000.000 per bulan, itu pun jika Anda makan gratis, transportasi gratis, telepon gratis, listrik gratis, dan serba gratis. Kayaknya tidak mungkin dech.

Yang ingin saya tekankan disini adalah jika kita fokus pada penghematan maka peluang keberhasilan kita tidak akan lebih dari penghasilan yang kita miliki. Namun jika kita membuka mata untuk berinvestasi baik dalam bisnis sendiri, emas, properti, saham, dan sebagainya, maka kita memiliki peluang yang jauh lebih besar, bahkan tidak ada batas. Gaji Anda boleh Rp 5.000.000, tetapi peluang penghasilan dari bisnis/investasi bisa jauh lebih besar, puluhan bahwa ratusan kali lipat.

Intinya ialah jangan fokus pada berhemat saja, sisihkan sebagian hasil penghematan Anda untuk investasi.

Keempat: melupakan pendidikan. Saking berhematnya, banyak orang yang enggan mengeluarkan uang untuk membeli buku, ebook, video, mengikuti seminar, dan sebagainya. Dia pikir pendidikan bukan kebutuhan primer sehingga mendapatkan alokasi terakhir (jika ada sisa) bahkan tidak dialokasikan sama sekali.

Melupakan pendidikan sebenarnya sama dengan membatasi realitas Anda agar tidak berkembang. Padahal keberhasilan Anda akan berbanding lurus dengan besarnya realitas dalam diri Anda. Pikiran Anda ibarat wadah. Cara memperbesar pikiran ialah dengan belajar atau pendidikan. Hanya orang yang berpikiran besar yang akan meraih pencapaian besar. Pikiran mempengaruhi tindakan Anda dan tindakan menentukan hasil.

Berhemat dan Menjadi Kaya

Sekarang Anda sudah tahu salah kaprah dalam berhemat. Agar penghematan Anda menjadi berkah bagi Anda, maka hindari kesalahan diatas.

  1. Gunakan hasil penghematan Anda untuk shadaqah (tentu saja selain zakat Anda). Insya Allah ini akan menambah keberkahan dan rezeki kita akan ditambah. Tentu saja kita niatkan shadaqah hanya karena Allah, bukan karena ingin ditambah harta. Penambahan harta itu adalah bonus dari Allah sesuai janji-Nya seperti tertulis di Al Quran dan hadits.
  2. Nikmati hidup, jangan menjadi orang yang sesangsara sementara Anda sebenarnya mampu hidup lebih baik. Yang penting jangan boros sehingga uang Anda habis malah tekor untuk bersenang-senang.
  3. Investasikan sebagian hasil penghematan Anda. Bisa membangun bisnis sendiri, investasi pada aset seperti emas, properti, tanah, atau saham, dan sebagainya. Silahkan konsultasikan dengan penasihat keuangan Anda. Investasi memang beresiko, tetapi tidak berinvestasi juga beresiko.
  4. Investasikan pada pendidikan Anda. Tetaplah belajar agar pikiran Anda berkembang. Pohon akan menjadi besar jika pohon itu tumbuh. Begitu juga dengan Anda, bertumbuhlah.

Insya Allah dengan cara seperti ini kehidupan finansial Anda akan lebih baik dibandingkan dengan sekedar berhemat. Hemat pangkal kaya memang benar jika kita menjalankannya dengan benar.


http://www.motivasi-islami.com

Entri Populer